Hypnosis SHOT-Indonesia: SELFIE MENCIPTAKAN KESEIMBANGAN DAN MEMBUKA PIKIRAN UNTUK MENGERTI


Hypnosis SHOT-Indonesia:

SELFIE MENCIPTAKAN KESEIMBANGAN DAN MEMBUKA PIKIRAN UNTUK MENGERTI 

Selfie Intinya adalah Menciptakan Keseimbangan dan Membuka Pikiran  untuk mengerti. Ada Sisi Menguntungkan yang Diperoleh Bila Melakukan Selfie dengan Benar. Bila Merasa Lebih Baik dengan Selfie, Tentu Hal Ini Baik untuk Memperbaiki Kondisi Psikologis Seseorang.

Selfie Intinya adalah Menciptakan Keseimbangan dan Membuka Pikiran untuk mengerti. Ada Sisi Menguntungkan yang Diperoleh Bila Melakukan Selfie dengan Benar. Bila Merasa Lebih Baik dengan Selfie, Tentu Hal Ini Baik untuk Memperbaiki Kondisi Psikologis Seseorang.

CIAMIS (24/02/2015). Menurut sejarah, mengabadikan diri sendiri dengan perangkat elektronik atau dalam bahasa Inggris dinamakan Self-Portrait atau disingkat SELFIE dilakukan pertama kali oleh seseorang bernama Robert Cornelius pada tahun 1839.

Ketika era kamera polaroid sedang menjadi salah satu tren di tahun 70an, seorang bernama Andy Warhol juga pernah melakukan selfie dan hal tersebut tercatat sebagai selfie kedua dalam sejarah.

Kini, di era teknologi serba maju, perangkat hi-tech beredar di mana-mana sekaligus portable device dengan fitur kamera seperti smartphone, phablet dan tablet menjadi satu hal yang umum, aksi selfie ini amat sering dijumpai.

Bahkan ketika internet dan jejaring sosial meraih popularitasnya dalam beberapa tahun terakhir ini, foto-foto selfie juga sering beredar luas serta dijadikan cover atau profile picture seseorang dalam account jejaring sosial mereka.

Dengan mengambil angle agak tinggi sekitar 45 derajat, mata sedikit dibuat sayu, (terkadang) mengambil pose duck face, mengambil fotonya dengan menggunakan aplikasi seperti Instagram untuk menambah kesan dramatis dan lainnya, membuat aksi selfie menjadi sangat mudah dilakukan, kapan dan di manapun juga.

Menurut  Dr Mariann Hardey, seorang pengajar di Durham University dengan spesialisasi digital social media bahwa definisi Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya.

Hardey juga mengatakan bahwa dengan memamerkan foto-foto selfie tersebut, maka orang yang bersangkutan ingin terlihat ‘bernilai’ lebih-lebih apabila ada yang berkomentar bagus tentang foto tersebut.

Walaupun tidak hanya Hardey yang mengatakan bahwa selfie merupakan bentuk dari ingin diakui atau dapat disebut sebagai tanda kurang percaya terhadap diri sendiri karena banyak peneliti lain yang juga mengatakan hal serupa, namun tidak sedikit orang yang membantah bahwa selfie dilakukan hanya sekadar ingin tenar dan tidak percaya diri.

Ada sebagian kecil atau besar orang mengatakan bahwa dia melakukan selfie hanya karena untuk mengeksplorasi diri sendiri dan melihat tubuhnya sendiri bukan dengan maksud ingin narsis atau sejenisnya.

 Selfie atau memotret diri sendiri untuk kemudian mengunggahnya ke jejaring sosial saat ini menjadi bagian dari gaya hidup. Bahkan, istilah selfie kini sudah masuk dalam kamus dan ditempatkan sebagai Oxford English Dictionary’s 2013 Word of The Year.

Perilaku narsisme di media sosial ini pun sudah berlaku universal. Tak cuma masyarakat biasa, kalangan elite seperti presiden, pejabat, dan selebriti pun sudah ketularan perilaku ini. Survei dari Pew Internet & American Life Project menyatakan, 54 persen pengguna internet punya kebiasaan mengunggah potret dirinya ke dalam Facebook, Twitter, atau jejaring sosial lainnya.

Anda atau Saya mungkin memiliki keinginan memotret, mem-posting, dan mendapatkan “likes” dari situs jejaring sosial merupakan hal yang wajar pada setiap orang.

Keinginan ini dipengaruhi rasa kita pada hubungan sosial. Hal ini sebetulnya sama dengan saat orang mengatakan betapa indahnya bentuk bibirmu  yang kita miliki. Secara biologis, pengakuan sosial merupakan kebutuhan, bahkan ada area pada otak yang dikhususkan untuk aktivitas sosial..

“Wabah” selfie sebetulnya tidak dimulai saat marak penggunaan smartphoneSelfie pertama kemungkinan dilakukan di tahun 1800-an menggunakan cermin atau menggunakan self-timer. Selfie kala itu tidak melibatkan obyek tunggal seperti saat ini, tetapi dalam kelompok besar seperti berfoto dengan teman atau keluarga. Beberapa melakukan ide kreatif, misalnya dengan menggunakan cermin, untuk mendapatkan gambar terbaik dirinya.

Namun dengan teknologi yang kian berkembang, selfie semakin maju hingga tak bisa lagi diprediksi. Gaya yang digunakan semakin beragam baik menggunakan cermin seperti tahun 1800-an, atau membalikkan kamera. Di awal era media sosial, foto dikirim untuk teman atau demi kesenangan semata.

SELFIE

Seseorang yang Secara Berkala Mem-posting Foto Miliknya di Media Sosial Berisiko Membahayakan Hubungannya di Kehidupan Nyata

Efek Selfie:

Menurut pendapat beberapa ahli, selfie ternyata memiliki dampak negatif dan positif. Penelitian di Inggris menyatakan, membagi terlalu banyak foto ke jejaring sosial termasuk foto selfie, berpotensi memperburuk hubungan atau membuat pengunggah foto kurang disukai.

Seseorang yang secara berkala mem-posting foto miliknya di media sosial berisiko membahayakan hubungannya di kehidupan nyata hal ini menurut dikarenakan tidak semua orang berhubungan baik dengan orang yang mem-posting foto personalnya.

Beberapa ahli menyatakan, mem-posting foto di jejaring sosial, termasuk foto selfie, bisa memengaruhi karakter dan tingkah laku orang dewasa. Misalnya untuk narsis, yang ditemukan pada beberapa selfie, obyek dalam keadaan bersenang-senang. Meski begitu, peneliti menganggap selfie bisa menimbulkan kesan kesendirian yang amat dalam pada obyek foto.

Bagaimanapun, sejumlah psikolog berpendapat, selfie tak sepenuhnya hanya menguntungkan diri sendiri. Selfie bisa menguntungkan banyak orang bila digunakan dengan tepat. Misalnya foto seusai menjalankan kebiasaan hidup sehat dibanding sebelumnya.

Dengan kata lain, orang yang kerap selfie bisa berperan sebagai penyebar pesan positif dan artistik ke populasi yang lebih luas, seperti halnya seorang fotografer. Dengan hal itu pula, selfie dapat dibedakan dari cara pria dan wanita mengambil foto.

Bila dilakukan dengan benar, selfie bisa menjadi cara mengeksplorasi kepercayaan diri. Selfie bisa memberi dukungan pada orang dengan cara berbeda. Pada wanita misalnya, ketika dia merasa terpuruk, selfie membantu mereka melihat keadaan tersebut sebagai sesuatu yang normal, sama halnya pada pria.***


Melayani Hypnotherapi & Hypnotis Training Hubungi: Dr.Gumilar,S.Pd.,MM.,CH.,CHt.,pNNLP,

Alamat: Dusun Panoongan, Desa Kertaraharja, Kec. Panumbangan, Kab. Ciamis, Jawa Barat, Indonesia, Contact Person HP. 081323230058, PIN BB 529D766E, atau https://drgumilar.wordpress.com/2014/01/15/hypnosis-shot-indonesia/ ***

Iklan