OTAK MANUSIA: “Optimalisasi Fungsi Otak Manusia Melalui Pembelajaran Bermakna”


OTAK MANUSIA:

“Optimalisasi Fungsi Otak Manusia melalui Pembelajaran Bermakna”

(CIAMIS,19/06/2016). Dalam hipotesisnya, Bobby De Porter & Mike Hernacki menyatakan bahwa otak manusia terdiri dari 3 (tiga) bagian dasar, yaitu batang atau “otak reptile“, system limbik atau “otak mamalia” dan neokorteks.

1.  Batang Otak atau Otak Reptil

Dikatakan otak reptil, karena reptil seperti kadal, buaya punya otak ini. Otak reptil terletak di bagian bawah tengkorak. Fungsinya untuk mengontrol pernapasan, denyut jantung, dan reaksi insting dalam keadaan bahaya atau terancam. Saat bahaya data2ng maka bangsa reptil akan serta merta berlari atau berhadapan untuk membela/mempertahankan diri. Sebagai contoh perilaku pada Biawak ketika kita menghalau seekor Biawak yang sedang kawin, maka tanpa berpikir panjang ia akan lari terbirit dengan meninggalkan sang betinanya yang barusan sedang ’dikawinin’. Kalau kita mendadak lari karena takut anjing, otak inilah penyebab utamanya.

Batang otak juga berkaitan dengan insting untuk mempertahankan hidup dan mengembangkan spesiesnya. Dua poin tersebut terlihat pada usaha untuk mencari makanan, tempat tinggal, bereproduksi –maksudnya menikah untuk manusia- dan mencari perlindungan. Saat dorongan seksual menimpanya,ia pun akan melakukan apa saja agar kebutuhan seksnya terpenuhi, tidak berpikir panjang lagi dengan cara apapun dan dengan siapapun. Ia akan melakukan apa saja saat lapar, apapun akan dilakukannya demi terpenuhinya rasa lapar tersebut. Batang Otak juga bertanggung jawab atas pengendalian insting primitif dari wilayah pribadi seseorang seperti alasan marah, terancam atau tidak nyaman ketika seseorang mendekati.

2.      Sistem Limbik atau Otak Mamalia

Otak Mamalia merupakan bagian yang membungkus batang otak tadi, dengan hypothalamus dan amygdala sebagai komponen utamanya. Hypothalamus inilah yang memproduksi hormon pertumbuhan seperti testosteron dan progesteron. Hormon inilah yang membuat seorang anak mulai ‘berubah’ secara fisik seperti orang dewasa.

Otak mamalia berfungsi sebagai pengendali emosi, membantu mempertahankan keseimbangan hormonal, rasa haus, lapar, dorongan seksual, pusat kesenangan, metabolisme dan bagian penting dari ingatan jangka panjang. Sebagai pengatur emosi dan ingatan maksudnya: jika kita melakukan sesuatu yang melibatkan emosi yang mendalam, kita akan lebih mudah mengingatnya; tak gampang lupa. Inilah penyebab kenapa seseorang yang patah hati susah sekali melupakan kenangan indah bersama si dia. Setiap hal yang dilakukan bersama si dia, melibatkan emosi secara mendalam. Hal ini bisa kita lakukan ketika sedang belajar.

Karena namanya otak mamalia, setiap mamalia punya otak ini. Mungkin karena itulah mamalia lebih bersahabat dengan manusia daripada reptil. Kucing, masih bisa dielus-elus, disayang-sayang. Sedang buaya, jangankan mau dielus, didekati saja mulutnya sudah menganga.

3.      Neokorteks atau otak berpikir.

Inilah yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya di muka bumi; otak berpikir. Fungsinya untuk mengendalikan penglihatan, pendengaran, kreasi, berpikir, berbicara, dan semua hal yang berkaitan dengan kemampuan yang lebih tinggi atau intelegensi.

Neokorteks inilah yang membuat kita; manusia, bisa mengendalikan nafsu dan emosi. Tidak seperti binatang yang begitu pengen langsung main serodok. Neokorteks membuat kita berpikir secara intelek, waras, mengambil keputusan hati-hati, kendali motorik sadar dan menciptakan gagasan nonverbal. Bersyukurlah karena Yang Kuasa memberi kita Neokorteks selain otak reptil dan otak mamalia.

           Ketiga bagian otak ini menjadi satu kesatuan. Kesatuan otak ini juga yang kemudian terbagi menjadi belahan otak kiri dan kanan, sebagaimana yang sudah saya jelaskan di awal. Keseimbangan penggunaan otak kiri dan kanan sangat penting agar seluruh potensi kita bisa keluar; bermanfaat untuk kehidupan. Ada kalanya seseorang cenderung hanya memakai belahan otak tertentu saja. Maka dari itu, kita harus tahu dulu bagian otak mana yang lebih sering kita gunakan. Cara gampangnya dengan menganalisa kebiasaan kita dan mencocokkannya dengan ciri-ciri yang sudah saya sebutkan. Setelah itu lakukan rangsangan untuk mengaktifkan belahan otak yang lain.

Paradigma pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan kecerdasan selayaknya mengacu pada perkembangan otak manusia seutuhnya. Realitas pembelajaran dewasa ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar lebih banyak mengacu pada target pencapaian kurikulum dibandingkan dengan menciptakan siswa yang cerdas secara utuh. Akibatnya, peserta didik dijejali dengan berbagai macam informasi tanpa diberi kesempatan untuk melakukan telaahan dan perenungan secara kritis, sehingga tidak mampu memberikan respons yang positif. Mereka dianggap seperti kertas kosong yang siap menerima coretan informasi dan ilmu pengetahuan.

Kegiatan yang terjadi di dalam ruang belajar masih bersifat tradisional yakni menempatkan guru pada posisi sentral (teacher centered) dan siswa sebagai objek pembelajaran dengan aktivitas utamanya untuk menerima dan menghafal materi pelajaran, mengerjakan tugas dengan penuh keterpaksaan, menerima hukuman atas kesalahan yang diperbuat, dan jarang sekali mendapat penghargaan dan pujian atas jerih-payahnya.

Oleh karena itu, dalam upaya mengubah paradigma pembelajaran sehingga dapat memberdayakan otak secara optimal, pendapat Eric Jensen dalam bukunya Brain Based Learning, patut untuk dijadikan rujukan. Dia menawarkan sebuah konsep dalam menciptakan pembelajaran dengan orientasi pada upaya pemberdayaan otak siswa. Menurutnya ada tiga strategi berkaitan dengan cara kita mengimplementasikan pembelajaran berbasis kemampuan otak, yaitu :

  1. Menciptakan suasana atau lingkungan yang mampu merangsang kemampuan berpikir siswa. Strategi ini bisa dilakukan terutama pada saat guru memberikan soal-soal untuk mengevaluasi materi pelajaran. Soal-soal yang diberikan harus dikemas seatraktif mungkin sehingga kemampuan berpikir siswa lebih optimal, seperti melalui teka-teki, simulasi, permainan dan sebagainya.
  1. Menghadirkan siswa dalam lingkungan pembelajaran yang cukup menyenangkan. Guru tidak hanya memanfaatkan ruangan kelas untuk belajar siswa, tetapi juga tempat-tempat lainnya, seperti di taman, di lapangan bahkan diluar kampus. Guru harus menghindarkan situasi pembelajaran yang dapat membuat siswa merasa tidak nyaman, mudah bosan atau tidak senang terlibat di dalamnya. Strategi pembelajaran yang digunakan lebih menekankan pada diskusi kelompok yang diselingi permainan menarik serta variasi lain yang kiranya dapat menciptakan suasana yang menggairahkan siswa dalam belajar.
  1. Membuat suasana pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang aktif dan bermakna hanya dapat dilakukan apabila siswa secara fisik maupun psikis dapat beraktivitas secara optimal. Strategi pembelajaran yang digunakan dikemas sedemikian rupa sehingga siswa terlibat secara aktraktif dan interaktif, melalui model pembelajaran yang bersifat demontrasi.

Pendapat  Eric Jensen di atas merupakan upaya konkret untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, kunci keberhasilan itu semua terletak pada kemauan dan kemampuan guru untuk mereformasi cara dan strategi pembelajarannya serta berani untuk menggeser paradigma berfikirnya, sehingga lebih bersifat praktis ketimbang teoritis.***


Melayani Hypnotherapi, Hypnotis Training, dan Ruqyah Syar’iyyah Hubungi: Dr.Gumilar,S.Pd.,MM.,CH.,CHt.,pNNLP, Contact Person HP. 081323230058, PIN BB 58640EF8, atau https://drgumilar.wordpress.com/2014/01/15/hypnosis-shot-indonesia/***

Iklan