Hatta: “BBM Bersubsidi Membutuhkan Kajian yang Komprehensif”


Catatan Gumilar Saat Menghadiri Seminar Nasional “Mengabdi Pada Negeri”:

Hatta:

BBM Bersubsidi Membutuhkan Kajian yang Komprehensif

BANDUNG: Saat menjadi pembicara pada seminar nasional bertajuk ‘Mengabdi Pada Negeri’ dan Temu Alumni Universitas Pasundan (Unpas), Hatta memaparkan program ekonomi nasionalnya di hadapan para peserta seminar.

Dalam acara ini selama kurang lebih 30 menit, Hatta yang hadir sebagai panelis memaparkan program ekonomi nasionalnya di hadapan para peserta seminar.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan pemerintah sampai saat ini belum memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

“Hingga saat ini kami belum memutuskan ada kenaikan harga BBM, jadi tidak perlu membuat spekulasi seperti itu” katanya, hari ini.

Pada acara Temu Alumni Universitas Pasundan Bandung di Hotel Horisson  dihadiri pula Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, SH.,SU (Ketua Mahkamah Konstitusi), Prof. Dr. Eman Suparman, SH.,M.Hum (Ketua Komisi Yudisial RI)., Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si., (Rektor Unpas)  Hatta mengatakan rencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi membutuhkan kajian yang komprehensif dan harus dilihat dari berbagai aspek.

“Kalau hanya melihat dari segi fiskal saja, maka kecenderungan kita agar fiskal tidak tertekan supaya bisa mengalihkan sebagian anggaran untuk pembangunan infrastruktur sepertinya benar [menaikkan harga BBM bersubsidi],” katanya.

Dia menambahkan jika dilihat dari aspek terhadap inflasi, daya beli masyarakat dan tekanan terhadap kemiskinan, hal ini menjadi pertimbangan untuk menaikkan harga BBM.

“Semua itu harus kita ukur dan hitung secara baik sehingga kita bisa menetapkan sebuah policy yang bisa diterima oleh masyarakat,” ujarnya.
Dia menambahkan dalam RAPBN 2012 jumlah subsidi untuk BBM, listrik, migas, pertanian sebesar Rp200 triliun dan subsidi lain yang berjumlah hampir 20% dari APBN.

Dengan kuota 2008 sebesar 38,6 juta kiloliter dan subsidi sekitar Rp98 triliun, Hatta menganjurkan dan mengajak masyarakat untuk berhemat.

Dia juga mengimbau masyarakat yang sudah menggunakan pertamax jangan pindah ke premium karena akan membebani subsidi.

Hatta mengatakan batas harga minyak harus disesuaikan dengan ICP (Indonesian Crude Price) atau patokan harga minyak mentah Indonesia.

“Angka ICP pada 2011 sebesar US$80 per barel dan harus ada perubahan asumsi-asumsi makro yang tidak sesuai dengan ICP,” katanya.

Pemerintah, kata dia, lebih menganjurkan agar masyarakat bisa menerapkan pola hemat dalam menggunakan BBM supaya tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak.

Selain masalah BBM yang menjadi sorotan Hatta, yakni pengembangan Pulau Jawa sebagai wilayah penyedia jasa, khususnya Jabar. Selain menekankan pengembangan Jabar bagian Selatan, Hatta membahas pentingnya pembukaan bandara baru.

“(Bandara) Soekarno-Hatta tidak mungkin lagi mengakomodasi semuanya, perlu bandara baru yang lebih besar untuk dapat mengakomodir,” ujar Hatta Karena itu, Hatta menilai pembukaan bandara baru di wilayah Jabar sangat penting untuk perkembangan perekonomian, bukan hanya untuk Jabar tapi juga secara nasional. (Gumilar)

Iklan